ceritaku

Minggu, 28 Agustus 2011

Tangisan Sajadah


Tiba-tiba aku dengar rintihan
Entah siapa , aku tak tahu
Kembali ku tarik selimutku, mencoba mengabaikan
           
Rintihan menjadi  tangisan
Entah siapa itu
Dan tetap ku tarik selimutku, mencoba mengabaikan

Semakin keras ku dengar tangisan
Makin keras dan menjadi
Siapa yang berani menangis tengah malam begini ?
Orang gilakah, atau seorang anak yang kehilangan induknya?

Tak tahan
Aku bangun
Mencari asal suara yang mengganggu
Dan semakin jelas dari balik ruang sempit tanpa lampu
Sontak mataku terbelalak
Bukan manusia yang menangis
Tapi bentangan kain panjang nan indah dari Mekkah
Sajadahku menangis
Mengapa ia menangis?
Bukankah telah aku gantung ia dengan berlindungkan kaca
Bukankah cantik parasnya, lembut tubuhnya, halus benangnya
Dan perlu cukup uang untuk memilikinya
Mengapa ia menangis?  

Lalu ia menatapku dengan mata sembab
Dengan air mata yang terus mengalir  deras
Seraya berkata ”Aku tak mau kau perlakukan seperti ini! hanya sebagai hiasan dindingmu, aku mau seperti temanku yang lusuh itu
 untuk bersujud padaNya”

Dan sajadahku masih saja menangis
Dan aku masih tak mengerti





Yogyakarta, 9 Februari 2011

Kosong

KOSONG

Tak ada manusia
Tak ada dunia
Tak ada cahaya
Tak ada cinta
Tak ada rasa
Tak ada cipta
Tak ada rasa
Semua kosong dan kosong
Tak ada apa-apa





Yogyakarta, 21 Januari 2011

Desaku


DESAKU


Hamparan permadani hijau menyambutku
Kicauan burung nan merdu meramaikan alam
Para empu sawah bersiap menggandeng kerbau
Cahya surya indahkan cakrawala
Gemercik aliran sungai,mendamaikan jiwa

Langit biru berpayung awan
Berteman gunung megah menawan
Angin berhembus semilir, hingga ilalang bergoyang
Riuh anak kecil bersendau gurau
Indah nian desaku
Indah nian ciptaanMu
Tak ingin pergi
Ingin bersama desaku
Tapi sesuap nasi menungguku di kota



Yogyakarta, 2 Januari 2011

Tak Akan Pulang


Telah lama kunanti kedatanganmu
Tiap hari, tiap waktu
Kau bilang akan pulang
Hingga malam datang dan purnama bersinar
Kau tetap belum pulang
Dan aku masih menunggu
Di dingklik depan rumah
Masih setia menunggu

Tapi kau tak pernah pulang
Hingga mata terpejam
Aku akan selalu menunggu
Walau kau tak akan pernah pulang

Yogyakarta, 9 Februari 2011

Surat untuk Kekasih

Surat di bawah ini cukup membuat saya gimana gitu....maklum sajak ini dibuat oleh 

seseorang yang cukup spesial (hi...hi...sedikit curhat). Surat ini daleeeem banget  n sangat 

romantis....diksi (pilihan kata) juga cukup menyentuh dan mampu menggambarkan apa 

yang ingin diutarakan si pembuat.

Klepek-klepek lah bagi penerima surat ini




Surat untuk Kekasih

Katakanlah kekasih, adakah debar ini benar-benar nyata, ataukah fatamorgana belaka.

Alam pikiranku yang murung terlalu berat mempercayainya sebagai nyata.
Engkaukah itu kekasih, melantunkan doa, tanda engkau mendengar suaraku? 

Kulihat ragumu yang kian kikis seperti hujan pantai

menyirami gunung rinduku yang gersang. 

Kekasih, aku kini terjebak oleh harapan yang semakin bubung, 

padahal aku takut ketinggian, dan aku tak mau lagi patah tulang.
Di sini, kekasih, aku semakin terambing di antara kebahagiaan dan jerih. 

Katakanlah, sayangku, bagaimana bisa kuhapus langkah ragumu,

sedangkan sepasang lenganku telah semakin renta memendam ingin, 

merangkum tubuhmu dalam rengkuh agar kita bisa bicara dalam bahasa degup dada, 

agar kita saling lebur luruh dalam semesta.
Kekasihku, berahi cintaku telah aku serahkan kepada kuasa langit

 agar matahari membakar setiap goda dan rembulan menyucikannya.

Cinta, sayangku, telah merangkum seluruh doa-doa malamku dan setiap hembus nafasku

telah kulayangkan ke udara di sekitar lingkar kepalamu  agar engkau baca, 

betapa namamu telah lama tertulis di pintu kamarku.